GALAKSI DAN BINTANG DALAM AL-QUR’AN
Langit yang luasanya tak
terjangkau oleh perhitungan manusia itu, ternyata bukanlah ruang kosong, tetapi
berisi bermacam-macam benda, baik benda yang tergolong besar seperti
bintang-bintang, planet-planet, satelit dan sebagainya, juga benda-benda yang
tergolong kecil, seperti atom-atom, molekul-molekul, dan sebagainya.
Benda-benda itu pun tidak hanya diam dan tenang, tetapi semuanya beredar pada
orbitnya masing-masing secara seimbang dan serasi sesuai dengan qadar Allah
sampai pada waktu yang ditentukan.
Dan matahari berjalan di
tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha
Mengetahui. (QS. Yasin/36: 38)
Para astronom telah mengadakan observasi mengenai peredaran
benda-benada angkasa, yang pada intinya mereka sepakat bahwa benda-benda langit
itu beredar pada orbitnya masing-masing, di samping itu ada yang berputar pada
porosnya sendiri. Adapun di antara benda-benda langit itu adalah:
Galaksi (al-Buruj)
Galaksi atau yang dalam terminologi al-Qur’an disebut al-buruj,58 merupakan
suatu sistem dari himpunan besar yang terdiri dari bintang-bintang yang
jumlahnya jutaan, bahkan milyaran. Hornby mendefinisikan galaksi sebagai
beberapa kelompok besar gugusan bintang-bintang di angkasa luar yang menghimpun
tata surya kita.59
Galaksi yang menghimpun tata surya ini biasanya disebut dengan
galaksi bima sakti atau milki way. Galaksi ini bisa dilihat di malam hari yang
cerah seperti embun tipis membentang dari arah timur laut ke arah barat daya.
Apabila dilihat dengan teleskop ternyata bukanlah embun, tetapi berupa
butir-butir bintang yang jumlahnya lebih dari seratus milyar, di mana matahari
ini termasuk salah satu bagian dari butir-butir bintang tersebut. Sehubungan
dengan hal ini Musthafa Ks menulis sebagai berikut:
Sampai kira-kira
setengah abad yang lalu para astronom masih beranggapan bahwa tidak ada lagi
kelompok-kelompok bintang di luar galaksi bima sakti, tetapi setelah ada
teropong yang lebih besar lagi, telah diketahui pula beberapa galaksi lagi yang
di dalamnya berisi bermilyar-milyar bintang, kemudian diketahui sekitar 30 juta
galaksi dan seterusnya diketemukan sekitar 100 juta galaksi, akhirnya dengan
teropong teleskop terbesar di dunia Mount Palamor diketahui galaksi di alam
semesta ini tak terhingga jumlahnya.60
Menurut pengamatan yang dilakukan oleh Dr. Edwin P. Hubble,
seorang sarjana di Observatorium Mount Wilson, California, Amerika Serikat pada
tahun 1925 dapat dibuktikan bahwa galaksi-galaksi yang tampak dari bumi itu
selain berotasi juga saling berjatuhan dan menjahui bumi, sehingga dapat
dikatakan bahwa ruang alam kita ini bersama-sama dengan galaksi-galaksi itu
berekspansi. Jadi, alam ini mengembang dengan ekspansinya galaksi-galaksi itu.
Teori ini kemudian dikenal dengan “The Expanding Universe”.61 Menurut
teori ini bahwa alam semesta bersifat seperti balon atau gelembung karet yang
sedang ditiup ke segala arah.
Ternyata, sebelum Hubble menemukan teorinya, bahwa alam ini
mengembang, dalam al-Qur’an telah dijelaskan bahwa Allah swt. meluaskan langit
dengan berekspansinya galaksi-galaksi itu. Pernyataan bahwa alam semesta itu
berekspansi dapat ditemukan dalam QS. al-Dzariyat/51: 48. Prof. Dr. Ahmad
Baiquni, salah seorang pakar astronomi asal Indonesia, menerjemahkan ayat
tersebut sebagai berikut:62
Dan langit itu kami
bangun dengan kekuasaan (atau kekuatan) Kami dan sesungguhnya Kamilah yang
meluaskan-nya. (QS. al-Dzariyat/51: 48)
Ayat ini secara jelas menunjukkan adanya korelasi antara konsepsi
al-Qur’an dengan teori Edwin Hubble tersebut di atas. Menurutnya, bahwa
benda-benda alam semesta ini terus berkembang meluas sehingga galaksi-galaksi
itu saling menjauh dari yang satu dengan yang lainnya. Semua itu menurut
perintah Allah yang menciptakannya dan terus demikian sampai pada waktu yang
telah ditentukan.
Dan Dia menundukkan
malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu
ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya (QS.
al-Nahl/16: 12)
Bintang (al-Najm)
Bintang dalam bahasa al-Qur’an biasa disebut sebagai al-najm,
jamaknya al-nujum.63 Term lain yang digunakan
al-Qur’an untuk menyebut bintang adalah kaukaba (jamak: kawakib).
Sedangkan dalam bahasa Inggris biasa disebut dengan star (plural: stars),
yaitu: any one of the bodies seen in the sky at night as distant point
of light,64 benda yang kelihatan di langit pada waktu malam
seperti sumbu titik kecil yang bercahaya sendiri.
Bintang yang apabila dilihat dengan mata kepala kelihatan sangat
kecil mungil itu sebenarnya merupakan benda raksasa yang sangat panas sekali
sampai beribu-ribu derajat celcius. Panas itu timbul dari hasil perpaduan
antara atom-atom hidrogen. Dengan demikian, bintang itu memiliki
cahayanya sendiri dan bukan merupakan cahaya pantulan dari benda lain,
seperti halnya planet-planet dan satelit yang terlihat bercahaya, yang
kesemuanya itu merupakan hasil pantulan dari sinar matahari. Hal ini secara
gamblang diilustrasikan oleh al-Qur’an dalam QS. al-Thariq/86: 1-3, sebagai
berikut:
Demi langit dan yang
datang pada malam hari, tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?,
(yaitu) bintang yang cahayanya menembus (QS. al-Thariq/86: 1-3)
Teks ayat ini secara tegas menunjukkan bahwa bintang itu mempunyai
cahaya sendiri yang mampu menembus ruang angkasa, dan cahayanya memancar sampai
di permukaan bumi yang dapat dilihat oleh penglihatan mata pada waktu malam
hari. Bintang-bintang itu pun berotasi akibat gaya tarik yang dimilikinya,
sehingga mereka terjaga dari jatuh ke pusat galaksi. Mengenai hal ini Musthafa
Ks menulis sebagai berikut:
Menurut para ahli,
rotasi bintang-bintang itu disebabkan ditarik oleh gaya tarik centripetal (gaya
tarik ke dalam) dari galaksinya masing-masing. Untuk mengimbangi agar mereka
(bintang-bintang) tersebut tidak jatuh pada pusat galaksi, maka mereka berputar
dengan gaya tarik centrifugalnya (gaya tarik keluar).65
Bintang sebagai benda-benda angkasa beredar mengelilingi matahari.
Di antara manfaat adanya bintang-bintang di angkasa raya itu bagi kehidupan
atau kebutuhan manusia adalah dapat dijadikan sebagai petunjuk kompas arah di
malam hari. Sebab yang demikian itu telah dijelaskan dalam al-Qur’an.
Dan Dialah yang
menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam
kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda
kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui (QS. al-An’am/6: 97)
Dan (Dia ciptakan)
tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat
petunjuk (QS. al-Nahl/16: 16)
Manusia mengenal dua gugus bintang yang dapat dijadikan sebagai
petunjuk arah atau waktu di malam hari, apabila mereka berada di tengah-tengah
samudra atau padang sahara yang luas, yaitu:66
Pertama, bintang biduk (bintang
tujuh). Bintang jenis ini biasanya digunakan untuk mengetahui arah pada malam
hari, yaitu dengan cara membuat garis lurus sebagai penghubung di antara
bintang-bintang itu, maka akan diketahui arah utara. Bintang ini menampakkan
diri pada bulan Maret sampai bulan Juli, yang letaknya di belahan bumi sebelah
utara.
Kedua, bintang pari (bintang
gubug penceng atau bintang salib selatan). Sebagaimana mengetahui arah utara,
cara yang digunakan untuk mengetahui arah yang ditunjukkan oleh bintang ini
kita harus membuat garis-garis penghubung antara bintang-bintang tersebut. Sedangkan
gugus bintang ini menampakkan diri pada bulan Maret sampai Agustus pada belahan
bumi sebelah selatan.
Adapun besarnya bintang-bintang di langit ada yang lebih besar
dari matahari dan ada yang lebih kecil. Bintang yang lebih besar dari matahari
diperkirakan para ahli ada 25 % dari jumlah 100 milyard bintang dalam galaksi
kabut susu ini.
Catatan
Akhir:
58Al-Qur’an mengistilahkan galaksi
atau gugusan bintang dengan term al-buruj (QS. al-Buruj/85: 1). Thanthawi
al-Jauhari mendefinisikan al-buruj
ini sebagai sekelompok bintang yang
besar yang berjumlah banyak, di mana menurut para ahli dewasa ini sebagian
galaksi itu ada yang sampai memiliki seratus juta bintang, dan di antaranya ada
yang cahayanya tidak sampai kepada kita kecuali setelah sejuta tahun, padahal
cahaya itu mempunyai kecepatan tiga ratus ribu kilometer perdetik (Lihat
Thanthawi al-Jauhari, op.
cit., h. 105)
59Lihat AS. Hornby, Oxford Advenced Leaner’s Dictionary
of Current English,
Jilid. III (London: Oxford University, 1977), h. 352
60Musthafa Ks, Islam dan Kehidupan Biologi di
Angkasa Luar (Bandung:
Al-Ma’arif, 1982), h. 9
61Lihat Quraish Shihab, Mukjizat…, op. cit., h. 175
62Prof. Dr. Ahmad Baiquni, op. cit., h. 21
63Term al-najm dalam bentuk mufrad terulang dalam
al-Qur’an sebanyak 2 kali, yaitu dalam QS. al-Najm: 53: 1; al-Thariq/86: 3.
Sedangkan dalam bentuk jamak, al-Nujum dalam al-Qur’an terulang sebanyak
6 kali yang tersebar ke dalam enam surat dan masing-masing terulang satu kali,
di antaranya terdapat dalam QS. al-An’am/6: 97; al-Shaffat/37: 88; al-Thur/52:
49; al-Waqi’ah/56: 75; al-Mursalat/77: 8; al-Takwir/81: 2
64Lihat As. Hornby, op. cit., h. 842
65Musthafa Ks, op. cit., h. 9
66Lihat Drs. Moch. Chadziq Charisma,
Lima Aspek Kemu’jizatan al-Qur’an (Surabaya: Bina Ilmu, 1991), h.
240

Artikel 





Posting Komentar - Back to Content